Selasa, 20 Oktober 2015

FIKIRKAN KAMI, PARA PETANI KELAPA SAWIT



Tangisan para petani sangat memilukan ketika harga pertanian memburuk sedangkan harga kebutuhan pokok melejit. Ketidakseimbangan inilah yang membuat keterpurukan ekonomi kelas bawah. Semakin hari semakin terdengar saja keluhan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Merlung, Tanjung Tabung Barat, merupakan desa yang mayoritas berpenghasilan kelapa sawit. Jenis sawit yang tumbuh di Desa Merlung ini banyak jenisnya, dari yang tergolong sawit plasma(pilihan pabrik) sampai kepada golongan sawit pribadi( sawit bibit bebas). Kondisi alam yang subur merupakan faktor utama yang melatarbelakangi mengapa Merlung menjadi pusat pertanian kelapa sawit.
Yang menjadi permasalahan yakni dalam beberapa bulan terakhir ini yakni harga buah kelapa sawit mengalami penurunan harga. Merosotnya harga kelapa sawit pada tahun 2015 ini sempat mencapai Rp 450/kg. Sedangkan kebutuhan pokok tidak ikut menurun, bahkan ada beberapa yang relatif mengalami kenaikan harga. Ini sangatlah mencekik para petani kelapa sawit, apalagi bagi mereka yang hanya menjadikan hasil pertanian mereka sebagai penghasilan pokok.
Pada tahun 2006-2007 juga pernah mengalami penurunan harga yang sangat menjepit perekonomian masyarakat. Pabrik hanya berani memasang tarif harga Rp 30.000/ton dalam selang waktu 8 bulan, sedangkan harga beli terhadap masyarakat tidak mampu memasang tarif lagi. Ini memiliki arti bahwa sawit pribadi masyarakat tidak mampu dihargai lagi.
“Waktu itu sawit kami nggak laku lagi. Karena para toke sudah tidak berani lagi beli sawit kami. Pikir positif aja, perhitungan biaya angkut saja sudah tidak bisa tertutupi oleh harga pabrik, belum lagi biaya kuli muat, di tambah lagi ongkos sopirnya, sudahlah, bisa apa kita ini kan” ujar pak Ahmadi saat diwawancarai beberap hari lalu.
Disamping kemerosotan, harga beli hasil pertanian juga pernah mencapai Rp 1.800/kg untuk harga beli sawit pribadi, sedangkan harga sawit plasma mencapai Rp 2.000/kg
Kurva perekonomian hasil pertanian memang selalu mengalami kenaikan dan penurunan. Masyarakat harus siaga dalam menghadapi kenyataan ini karena ini akan terjadi secara menglobal.
Harapan para petani tak lain hanyalah menginginkan kemakmuran dalam hidup. Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai petani kelapa sawit, mereka menginginkan kestabilan harga hasil tani mereka seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Harapan kami sebagai petani sawit, yang kesehariannya hanya merbaur dengan alam, ya tolong fikirkan nasib rakyat ekonomi rendah ini. Stabilkan harga beli hasil tani pada msyarakat. Tidak mengkhususkan daerah, namun secara keseluruhanlah” imbuhnya.

Oleh : Etik Wulandari, Jurusan "Komunikasi dan Penyiaran Islam."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar