Merlung,
Tanjung Tabung Barat, merupakan desa yang mayoritas berpenghasilan kelapa
sawit. Jenis sawit yang tumbuh di Desa Merlung ini banyak jenisnya, dari yang
tergolong sawit plasma(pilihan pabrik) sampai kepada golongan sawit pribadi(
sawit bibit bebas). Kondisi alam yang subur merupakan faktor utama yang
melatarbelakangi mengapa Merlung menjadi pusat pertanian kelapa sawit.
Yang
menjadi permasalahan yakni dalam beberapa bulan terakhir ini yakni harga buah
kelapa sawit mengalami penurunan harga. Merosotnya harga kelapa sawit pada
tahun 2015 ini sempat mencapai Rp 450/kg. Sedangkan kebutuhan pokok tidak ikut
menurun, bahkan ada beberapa yang relatif mengalami kenaikan harga. Ini
sangatlah mencekik para petani kelapa sawit, apalagi bagi mereka yang hanya
menjadikan hasil pertanian mereka sebagai penghasilan pokok.
Pada
tahun 2006-2007 juga pernah mengalami penurunan harga yang sangat menjepit
perekonomian masyarakat. Pabrik hanya berani memasang tarif harga Rp 30.000/ton
dalam selang waktu 8 bulan, sedangkan harga beli terhadap masyarakat tidak
mampu memasang tarif lagi. Ini memiliki arti bahwa sawit pribadi masyarakat
tidak mampu dihargai lagi.
“Waktu
itu sawit kami nggak laku lagi.
Karena para toke sudah tidak berani
lagi beli sawit kami. Pikir positif aja, perhitungan biaya angkut saja sudah
tidak bisa tertutupi oleh harga pabrik, belum lagi biaya kuli muat, di tambah
lagi ongkos sopirnya, sudahlah, bisa
apa kita ini kan” ujar pak Ahmadi saat diwawancarai beberap hari lalu.
Disamping
kemerosotan, harga beli hasil pertanian juga pernah mencapai Rp 1.800/kg untuk
harga beli sawit pribadi, sedangkan harga sawit plasma mencapai Rp 2.000/kg
Kurva
perekonomian hasil pertanian memang selalu mengalami kenaikan dan penurunan. Masyarakat
harus siaga dalam menghadapi kenyataan ini karena ini akan terjadi secara
menglobal.
Harapan
para petani tak lain hanyalah menginginkan kemakmuran dalam hidup. Dalam
menjalankan pekerjaannya sebagai petani kelapa sawit, mereka menginginkan
kestabilan harga hasil tani mereka seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Harapan
kami sebagai petani sawit, yang kesehariannya hanya merbaur dengan alam, ya
tolong fikirkan nasib rakyat ekonomi rendah ini. Stabilkan harga beli hasil
tani pada msyarakat. Tidak mengkhususkan daerah, namun secara keseluruhanlah”
imbuhnya.
Oleh : Etik Wulandari, Jurusan "Komunikasi dan Penyiaran Islam."
Oleh : Etik Wulandari, Jurusan "Komunikasi dan Penyiaran Islam."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar